Monday, March 25, 2013

Tangki Air Gunung Kidul

Di Gunung Kidul, masalah air sudah menjadi bagian dari masyarakat. Untuk mengatasi masalah, warga membangun tangki air di rumah dan di masjid. Tangki air di bangun di zaman presiden Soeharto. Bahan bahan untuk membangun tangki air adalah: Semen 14 sak, Krangka besi untuk membangun rumah, dan pasir. Bentuk tangki air di gunung kidul ber macam macam. Ada yang seperti kurungan ayam. Ada juga yang seperti bak mandi tapi dalam skala yang lebih besar. Cara mengisi tangki air di gunung kidul beda seperti mengisi tangki air yang ada di kota Jakarta. 

 Mengisi tangki air di Gunung kidul memerlukan talang air seperti di rumah pada umumnya tapi di salurkan ke tangki air. Dan di dalam tangki air terdapat ikan lele. Ikan lele di dalam tangki air memiliki fungsi untuk memakan jentik jentik nyamuk. Dibawah tangki terdapat keran air untuk mengambil air. Satu tangki air bisa bertahan kurang lebih satu bulan. Warga bisa juga membeli air seharga 150 sampai 200 ribu rupiah untuk satu tangki air. Atau mengambil air di tempat Sunan Kalijaga dahulu wudhu. Tapi lokasinya cukup membahayakan karena yang mengambil air di tempat Sunan adalah anak muda. Dan anak muda sudah banyak yang hijrah ke kota Jakarta.
By: Mahendra Abiyoga

Yogyakarta Guide book

  BERANGKAT

    Perjalanan kita dimulai dari SAI Rawa Kopi, keseluruhan yang ikut adalah 25 orang. Dari Rawa kopi, kita naik angkot S16 sampai pondok labu bayar Rp 2.000/orang. Kita jalan kaki sedikit lalu naik angkot D15 dari Al-Izhar sampai terminal Lebak Bulus bayar Rp 2.500. Lalu kita naik bus Rosalia. Harga tiket biasanya Rp. 140.000/orang, tetapi karena saat kami membeli tiket bus Rosalia sedang ulang tahun, jadi kita mendapat potongan harga Rp 10.000/orang. Jadi dana naik bus Rosalia Rp 130.000/orang dapet makan malam dan snack.


  DI YOGYAKARTA

     Di sana kita Carter bis kecil Rp 850.000/hari. Dan kita beri tambahan Rp 50.000/hari untuk supir dan Rp 50.000/hari untuk guide. Guide dan supir kita adalah warga Tanjung Lor, Bantul, Yogyakarta.

   KUNJUNGAN

    Di Hari pertama, kita berkunjung ke Museum Merapi. Biaya masuk Rp 3.000/orang dan kalau nonton tentang Merapi, ditambah Rp 5.000/orang. Jadi, kalau keliling+nonton totalnya Rp 8.000/orang. Setelah itu kita berkunjung ke Desa merapi dan Sungai Gendol. Dan malamnya kita menginap di Tanjung lor, Bantul.

    Di hari kedua, kita menuju ke Sleman untuk melihat rumah Dom, yaitu, rumah yang berbentuk seperti rumah Teletubbies (Setengah lingkaran). Karena sejak 2007 lalu rumah Dom sudah menjadi tempat wisata, kita membayar uang masuk Rp 5.000/orang. Lalu kita menginap di Gunung Kidul

   Di hari ketiga, kita Susur gua menuju Gua Cerme. Gua ini ada di perbatasan Bantul dan Gunung Kidul. Kita membayar Rp 2250/orang untuk di Bantul dan di Gunung kidul kita harusnya membayar Rp 3.000/orang. tetapi kami tidak diminta uang dari guide Gunung Kidul, maka kita hanya membayar Rp. 2250/orang dan guide Rp 30.000. karena jumlah orang yang bany7ak, kita menyewa 2 guide, posisinya di depan dan di belakang kita. Lalu kita pulang menuju stasiun Tugu, dan diturunkan di jl. Malioboro, di sebelah istana Presiden.

   PULANG

   Kami pulang naik kereta Senja Utama tujuan Yogyakarta-Senen. Harga tiket Bisnis Rp 200.000/orang. dan carter Kopaja AC dari Senen ke Rawa Kopi Rp 500.000/bus.




Rincian

Angkot S16 @Rp.2.500 x 25 orang                                         = Rp     62.500
Angkot D02 @Rp.2.500 x 25 orang                                         = Rp      62.500
Bis Rosalia Lebak Bulus-Giwangan@Rp 130.000 x 25orang    = Rp 3.250.000
Sewa bis @Rp 850.000 x 3 hari                                               = Rp    850.000
Supir @Rp 50.000 x 3 hari                                                       = Rp   150.000
Tour Guide @Rp 50.000 x 3 hari                                              = Rp   150.000
Museum Merapi @Rp 8.000 x 25 orang                                   = Rp    200.000
Rumah Dome @Rp 5.000 x 25 orang                                       = Rp    125.000
Cave Guide @Rp. 30.000 x 2 orang                                         = Rp      60.000
Kereta Senja Utama Jogja-Senen @Rp 200.000 x 25               = Rp 5.000.000
Kopaja AC @Rp 500.000  x 1 bis                                            = Rp    500.000

TOTAL                                                                                    =Rp 9.910.000
TOTAL/orang                                                                          =Rp    416.400


By: Rara




Menempuh Gelapnya Malam Dengan Sebuah Bis...

    Setelah kami turun dari angkot D02, kami pergi dan menunggu di sebuah Masjid yang ada di dalam terminal. Kami duduk selama kurang lebih 15 menit untuk menunggu bis. Setelah bis kami datang, kami berbaris untuk secara bergiliran masuk ke dalam bis. Setelah masuk, aku mengamati seluruh bagian bis. secara garis besar, bis ini cukup bagus untuk seukuran sebuah bis.
    Bis pun mulai melaju sejak sekitar jam 14:15. Bis pun sudah mulai penuh karena setengah bis sudah terisi oleh kami dan juga orang lain. Kami mulai menjalani aktifitas kami masing masing. Ada yang ngobrol, baca komik, baca qur'an, tidur, dan sebagainya.
    Kami berhenti di perberhentian milik apparel bis kami untuk istirahat, sholat, ke toilet dan makan malam. lauk makan malam kami ketika itu adalah nasi, bihun, ikan, dan sayur lodeh. kami bergantian untuk makan, maupun sholat.
    Kami pun memulai perjalanan kami lagi sekitar pukul 08:00. pada perjalanan di fase ke dua ini, banyak anank yang lebih memilih untuk tidur, karena berhubung waktu itu sudah malam. Kami pun sampai di terminal Giwangan sekitar jam 03:30. Setelah itu, kami pun istirahat sambil menunggu bis yang akan mengantar kami mengelilingi Kota Jogja datang.
    Well, itulah sepenggal cerita singkat ku dari sekian banyak cerita yang bisa kuceritakan selama perjalan ku di Jogja. Assalamu'alaikum dan salam super!

R. Fawwaz N
The Next Eddie Van Halen

Goa Cerme



Pada hari keempat di Jogja kami melakukan susur gua di Goa Cerme, Goa cerme terletak di dusun Srunggo,Selopamioro, Imogiri, Bantul, sekitar 20 km dari Yogyakarta. Panjang Gao Cerme sekitar 1,2 – 1,5 Km yang tembus hingga sendang di wilayah Panggang, desa Ploso, Giritirto, Kabupaten Gunung Kidul. Goa cerme adahal sungai dibawah tanah, air yang menggenangi goa Cerme sekitar 1 - 1,5 meter tergantung cuaca disana. Perjalanan dimulai sekitar pukul 10.00 Sebelum masuk goa kami melakukan pemanasan agar tidak cedera saat didalam goa, kesan pertama saat kami memasuki goa ada beberapa anak yang takjub, tapi ada juga yang merasa takut karena beberapa hari sebelum kita masuk goa ada 3 caver yang meninggal di goa lain. Tapi kami tetap melanjutkan perjalan, didalam goa bau dari sesajen yang ditaruh oleh masyarakat sana mulai tercium, buat yang takut di ruang tertutup dan mempunyai asma jadi punya tantangan tersendiri saat masuk goa. Setelah beberapa lama berjalan kedalam goa, kami melewati air terjun yang tidak terlalu tinggi hanya sekitar 2 meter. Setelah melewati air terjun kami berhenti sejenak untuk merefleksi diri kami masing – masing jadi semua senter yang ada dimatikan dan suasana sangat sunyi, kami pun mulai merefleksi diri. Setelah kurang lebih 3 menit kami boleh menyalakan senter kami kembali, ada beberapa orang yang nangis dan kami bermaafan satu sama lain. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kami sekitar satu jam perjalanan akhirnya kami keluar dari Goa Cerme yang sangat indah, mungkin kalo yang suka berpetualang pengen masuk lagi ke Goa Cerme atau goa – goa yang lain. (FAIZ)

Perjalanan Pulang Dengan KA SENJA UTAMA




            Jum’at 22 Maret 2013 jam 15.30, SL8 CZARGLICH berbelanja oleh – oleh di Jl.Malioboro. Dengan menaiki bus charter-an, kami berangkat dari agenda sebelumnya (susur goa Cerme) --> Berbelanja oleh – oleh khas Yogyakarta dan pulang ke Jakarta dengan menaiki KA  SENJA UTAMA  dari stasiun Tugu Yogyakarta (YK) Ć  stasiun Pasar Senen (PSE). Pada saat turun bus charter-an di jalan malioboro, kami pamit dengan pak saridi dan sopir+knek. Lalu pak budi memberikan briefing waktu untuk membeli oleh – oleh sampai Jam 17.30. “Saya” pada saat itu langsung menuju tempat tujuan yang saya tunggu – tunggu (stasiun) karena tidak mau membeli oleh – oleh lagi… toh.. nenek kan orang Jogja…
            Sesampai di stasiun, saat itu juga KA Gajah Wong melintas menuju Jakarta, itu adalah momen yang saya tunggu – tunggu karena KA tersebut sangat jarang terlihat, apalagi ragkaiannya baru saja di resmikan tahun lalu, jadi masih kinclong… Rombongan pertama sudah duduk santai di pintu gerbang stasiun,sedangkan yang lain masih saja berbelanja, padahal sudah lewat waktunya.
            Akhirnya yang lain sudah datang, dan kita langsug jalan ke loket stasiun. Di loket stasiun salah satu teman kita “Rara” pamit untuk pulang ke rumah tantenya di Jogja. Setelah menunggu beberapa saat akhinya pengurusan tiket sudah selesai dan kami pun masuk stasiun. Di dalam stasiun pak budi memberikan instruksi untuk mencari cemilan sementara dan memutuskan untuk shalat di kereta.
            Dan kami pun membeli snack yang tersedia di stasiun. Saya membeli burger daging dan segelas teh tarik. Sedangkan Ai, Ihfadz, Faiz membeli hotdog ayam. Tak lama kemudian suara kumandang adzan terengar dari musholla stasiun. Dan pak budi member intruksi kepada kami utuk egera ber-wudhu. Karena KA datang masih agak lama, pak budi memutuskan untuk shalat jamak qashar di stasiun.
            Dan pada akhirnya, saat yang dinanti – nanti pu tiba. KA  SENJA UTAMA  datang sengan membawa 8 kereta dan 1 gerbong barang ONS (Over Night Service). Kami pun segera beranjak dari tempat persinggahan kami menuju kereta nomor 6. Kami pun di bertahu pak budi bahwa kita memakai seat nomer 8,9,10,11,12,13. A-D. aku pun duduk di seat 8a - 8b + 9a – 9b bersama Abi, Pak Fauzi dan Pak Budi. Jam 18. 40 KA berangkat.
            Di perjalanan saya dan pak fauzi mendiskusikan tentang masalah yang ada di perkeretaapian saat ini. Dan saya memesan makanan pula yaitu ayam lalapan seharga Rp.20.000.. WOW! Sangatalah mahal untuk seporsi ayam goreng, sambal, lalapan, dan nasi, itupun belum termasuk minum jika ingin memesan es the seharga Rp.5000/gelas kecil, jadi sangatlah mahal.
            Sampai pada saatnya mata saya memina untuk ber-istirahat karena kelelahan. Akhirnya saya memutuskan untuk tidur. Dengan kondisi tidur yang bias di bilang seprti tidur ayam, sayapun tetap menikmati sensasi tidur di KA  SENJA UTAMA. Dan sayapn terbangun ketika melalui perlintasan nomer 81 (PJL81) ketika ingin memasuki stasiun Bekasi. Sayapun bersiap dan berusaha untuk memelekkan mata yang masih sayup – sayup. Dan sekitar 15 menit kemudian kamipun rombongan SL8 CZARGLICH sampai di stasiun Pasar Senen (PSE).
Sekian dari saya untuk cerita per jalanan pulang menaiki KA SENJA UTAMA.

WRITTEN BY: GHOZY

Sepenggal Cerita Terakhir di Kota Yogyakarta



     Bis kecil berwarna putih itupun pergi, yasebut sajalah metro mininya Jogja. Bis yang kami carter selama kurang lebih tiga hari ini telah mengantar kami ke berbagai tempat kota terdekat sebut saja Bantul, Sleman bahkan Gunung Kidul dan Kawasan Merapi kami sambangi selama 4 hari dan menyampaikan kami semua disini.
     Malioboro, kata ini paling sering ada dipikiran jika seseorang mendengar kata ‘Jogja’. Petang jam 4 sore kami menyelusuri Malioboro ini awal mula kearah timur, maksud hati ingin menuju stasiun Tugu namun kami hanya berkutat di sentral tempat ini dan rombongan pun mulai terpisah satu demi satu yang hanya sekedar melihat barang atau membeli namun hilang dari rombongan dan sempat pecah menjai beberapa rombongan , yakurang lebih ada tiga jumlah rombongan yang terpecah di tempat ini.
     Setelah membeli sandal, saya berjalan membuntuti Daffa yang tau tentang sini, ya maklum lah dia punya rumah disini dan sering main kesini sedangkan saya baru dua kali main ke Jogja. Tak lama kami bertemu dengan beberapa teman lainnya yang sedang berbelanja riuh dan menjadi satu rombongan.
     Berjalan sembari mengomentari obyek obyek yang ada disekitaran tak membuat kami lelah meski tampak matahari ingin menyembunyikan sinarnya, kami terus berjalan. Disela jalan sempat dipikiran naik andong 7 orang, dikira sampe stasiun 10 ribu rupiah  ternyata itu bayar per orangan alhasil kami jalan terus menyusuri Malioboro dengan muka lesu kecapean dan kaki yang sudah pegel sedari tadi.
     Mulutnya terus ngoceh sambil megang tas beta dan Pais, gajelas ngomong apa nia malah curhat tentang keluarga sodara nenek kakek sampe keluarga besarnya, tapi kita anggap Cuma kaya angin lewat karena factor fisik yang drop gabisa ngomentarin celotehan gajelasnya.
     Sampai suatu saat kami duduk didepan pintu masuk stasiun dan langsung menaruh barang di lantai dan suara nafas yang ngos ngosan sangat terdengar dari hidung maupun mulut yang kecapean. Akusih gangos ngosan maklum aja pemain bola fisiknya beda sama yang lain. Bosen,kami ngobrol kecil dan ketawa, ada jugasih yang ngelanjutin curhatnya ada juga yang main hape, sambil meratapi keindahan suasana Jogja sore hari.
    Sesosok itu menarik perhatian kami,yak orang ini mirip sangat dengan ‘Psy’ yang punya  Gangnam Style yang sempat trending beberapa waktu lalu. Berpakaian mirip dengan sosok asal korea tersebut, kami spontan berteriak histeris gajelas entah ngefans ato kagum atau penasaran, namun harus diakui miripnya itu sebelas duabelas sama yang ada di youtube dan jepretan kamera sudah sigap macam paparazzi amatiran yang hendak mengabadikan foto yang sebenarnya orang biasa itu.

      Rombongan sudah berkumpul, kami memasuki stasiun dan duduk rame-rame didepan loket dan setelah menunggu 15 menit kami masuk. Didalam ada yang menunggu sambil beli jajanan yang tersedia, ada yang becanda ngobrol, ada pula yang duduk bengong mungkin dia letih sepertinya. Tapi harga makanan disini mahal bukan kepalang dimana permen karet yang biasa dijual dipasaran hanya berkisar 2000 rupiah disini dua kali lipatnya yakni 4000 rupiah, yak benar disini harus merogoh kocek yang lebih dalam lagi untuk membeli sebuah makanan atau minuman.
     Adzan sudah berkumandang, kamipun laksanan shalat Jama’ Qashar di mushalla stasiun Maghrib Isha sembari menunggu kereta datang. Selesai shalat kami didatangi kereta yang akan membawa kami pulang ke Jakarta sana.
     Kami sudah masuk semua dan duduk manis hadap hadapan sesuai teman pilihannya. Langsung pesen bantal dan minuman wajib saya yaitu kopi susu. Disini pun makanan dan minuman yang notabene nya harga kalangan bawah disini dijual tiga kali lipatnya. Bayangkan saja secangkir kopi susu yang biasa dijual 2000 rupiah disini dijual 7000 ribu rupiah dan patut dimaklumi karena ini didalam kereta.
     Kereta jalan, kami menikmati perjalanan, ada yang tidur, baca buku, ngobrol , makan, macem macem lah. Tapi lepas jam 10 malam saya dan beberapa temen dapet obrolan berat dari seorang guru hingga jam setengah dua pagi dan ada jaminan sabtu ini kami tewas di kasur terdekat karena jam tidur yang sangat tidak mencukupi untuk istirahat malam yang seharusnya kami butuhkan.
     Dalam hati beta pribadi, banyak moral yang didapat dari outing kali ini, namun kognitifnya sulit dicerna karena outing kali ini banyak pesan hidup dari para sebut saja leluhur jawa yang kental dengan wejangan wejangannya. Berat rasanya meninggalkan outing kali ini namun kami harus kembali ke Jakarta untuk melaksanakan aktifitas rutin kami sebagai pelajar dan Insha Allah akan menjadi manusia berguna bagi nusa agama yang Shaleh Shalehah dan akan menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar . Amin Ya rabbal Alamin.

Naufal, Jomblo ngenes


A Story In A Different Point Of View

19 Maret 2013

Untuk hari ini, kita masuk siang. Lebih tepatnya kusus untuk anak murid SL8 Czar-Moglich. Kita mau melaksanakan sebuah kegiatan Outing yang bisa dibilang untuk terakhir kalinya di SL.
Berawal dari jam 12siang, kita semua udah harus ada di sekolah. Berangkatnya sih jam 2, tapi dari jam 12 sampai jam 2 kita melakukan sedikit kegiatan yaitu, Shalat pastinya, breafing, dan terakhir bisa dibilang opening ceremony. Sudah menjadi rutinitas, kepsek pasti ngasih kata sambutan sebelum pelepasan. Dan Opening ceremony pun diakhiri dengan doa plus foto.
Tujuan pertama, terminal Lebak Bulus. Kita kesana gak dianterin orang tua naik mobil. Tapi, kita harus naik angkot / angkutan umum, karena salah satu tema outing adalah 'Panic Management'. Sesampainya di terminal kita gak langsung naik bus nya, tapi kita menunggu guru mencari bus mana yang sudah kita booking. Mungkin sekitar 10-15menit kemudian kita masuk ke bus yang akan mengantarkan kita ke Jogja. Busnya bagus, nyaman juga, dan bersih. Kalau menurutku sih bus nya sudah cukup nyaman utuk menemani dan mengantarkan ke Jogja. Didalam bus kita gak langsung tidur, tapi kita ngobrol, nyanyi, bercanda, makan, bahkan ada yang baca Qur'an.

20 Maret 2013

Perjalanan menuju Jogja ditempuh sekitar 12jam. Dan sekarang kita tiba di Jogja sekitar pukul 4 pagi. Kondisi terminal bus disana pastinya sepi, karna itu masih pagi banget. Dan kita pun segera melanjutkan perjalanan. Kita nunggu dulu bus yang kita charter untuk mengantarkan kita kemanapun selama disana. Dan 15menit kemudian mini bus nya pun datang. Kita langsung naik bus dan tujuan pertama adalah stasiun. Karna  Pak Oji sama Pak Budi mau mastiin tiket kereta untuk kita pulang ke Jakarta. Gaklama kemudian Adzan subuh berkumandang, dan kita pun langsung menuju masjid terdekat untuk mejalankan ibadah shalat subuh.
Karna perjalanan di bus cukup melelahkan, jadi setelah shalat subuh kita langsung menuju tempat kita beristirahat untuk yang pertama. Tempatnya di Kaliurang, dirumah temen Pak Oji.
Disana kita istirahat, makan, mandi, dan boleh jalan - jalan ke sekitar rumah. Setelah mandi dan makan kira juga diajak salah satu temen pak Oji untuk melihat beberapa hal yang menarik dari tampat itu. Seperti, melihat ada kuil yang terkubur dan baru ditemukan lagi sekarang. Terus melihat IPAL (Instalasi Pengelolaan Air Limbah) disana. Dan terakhir kerajinan tangan disana.

Setelah istirahat kita melanjutkan perjalanan ke Musium Merapi. Itu musium yang dibangun tahun 2009 untuk  merekap semua kejadian yang terjadi pada gunung merapi Jogja dari tahun 1991-an sampai sekarang. Sesampainya kita disana kita diawali dengan menonton sebuah film yang menurut ku bertujuan untuk memberi gambaran sejarah, kondisi dan bagaimana cara orang - orang mengamati gunung itu. Film berdurasi 20menit. Setelah nonton film itu aku mulai terbayang bagaimana kondisi gunung tersebut lebih jelas dari sebelumnya. Setelah itu kita diajak untuk berkeliling musium untuk melihat semua yang ada disana. Kita bisa melihat banyak foto disana mengenai gunug api itu. Ada barang - barang yang masih bisa di selamatkan juga pasca terjadi letusan. Dan ada juga pengetahuan - pengetahuan yang dijelaskan melalui poster - poster yang dipajang disana.
Pasti kurang lengkap kalau kita ke musium tapi kita belum lihat tempat kejadiannya langsung. Dan pada akhirnya kitapun mampir ke sebuah desa yang sudah rata sekarang dengan tanah, yang berjarak sekitar 12km dari gunung, dan desa itupun sudah dipindahkan sekarang. Sesampainya disana yang dirasakan kegersangan dan sesak oleh debu. saat melihat ke sebelah kiri gunung api itu terasa seperti sangat dekat. Sulit membayangkan gimana waktu itu disana masih ada desa yang banyak warga nya. Yang setiap hari harus selau berhati-hati dengan gunung api tersebut. Tapi setelah dari situ kita menuju ketempat desa yang sudah dipindahkan ketempat lebih aman, yang dulunya posisi mereka ditempat yang sekarang sudah rata itu.

21 Maret 2013

Hari ke 3 ini kita menuju Sleman. Kita ingin mengunjungi salahsatu desa mungkin atau kecamatan yang dulunya tanah tempat mereka tinggal ambles dan sekarang sudah dipindahkan dengan bentuk rumah yang berbeda. Kita mengunjungi pemukiman rumah Dome!. Rumah dome itu rumah yang berbentuk bulat, seperti rumah teletabis. Kita mempelajari dari cara membuatnya, apa kelebihan dan kekurangannya, serta alasan mengapa memilih rumah seperti itu setelah kejadian longsor / tanah ambles yang terjadi.
Dan jawabannya, Cara membuatnya katanya sih gampang hanya membutuhkan waktu 30hari. Terus kelebihannya tahan gempa, tahan angin, dan kalau longsor rumahnya bisa gelinding (katanya). Kalau kekurangannya, rumah itu tidak tahan kondisii hujan dan panas yang ekstrim. Bisa menyebabkan Kebocoran dan kerusakan dibagian atas. Alasan memilih bentuk rumah yang itu juga karna kondisi di sana.

Disore harinya kita langsung menuju Gunung Kidul. Kita mengunjungi Majid Sunan Kalijaga dan kita ketempat wudhu atau pusatnya air dulu disana. Karna dari dulu dampai sekarang sebenernya, daerah gunung  kidul itu kekeringan. Tapi sekarang sudah ada beberapa perlakuan untuk menutupi kekurangan itu.
Disore hari kita belajar membuat Tiwul. Tiwul itu makanan ciri khas disana. Kita belajar cara masaknya, sampai nyobain masak dan nyobain makan.

22 Maret 2013

Hari ke 4 ini kita mau caving!. Kegiatan yang paling aku tunggu. Caving nya di perbatasan gunung kidul dan bantul yaitu di Goa Cereme. Level goa nya sih masih menengah, cuma gak sabar aja melawati goa itu bareng temen - temen. Pasti mengawali kegiatan dengan doa, dan menyiapkan mental. Goa nya itu terletak sedikit diatas. Jadi kita harus menaiki bukit gitu kayaknya sih. Tapi disana udah ada jalur tangga nya jadi lumayan dipermudah. Kita menusuri goa sekitar 2jam dan kondisi goa saat itu air nya sedang, sekitar se-paha sampai pinggang lah. Rintangan - rintangannya juga lumayan menantang, dan Alhamdulillah kita bisa melewati semua dengan selamat tanpa kurang apapun.

Setelah dari Goa agenda kita adalah menyerbu oleh-oleh di Malioboro. Sebelum ke Malioboro sih kita sempet mampir ke tempat pembuatan bakpia yang paling enak di Jogja. Hampir semua dari kita bahkan mungin semua, membeli bakpia untuk oleh - oleh. Tapi tetap aja bakpia pun belum memuaskan hati untuk membeli oleh - oleh. Kita lanjut ke Malioboro, dan disana kita bercerai - berai mencari oleh - oleh masing -masing dan perjanjiannya berkumpul di depan gerbang stasiun jam 6sore. Setelah pukul 6sore pun kita memasuki stasiun dengan berbagai macam oleh-oleh yang kita beli. Kereta kita datang jam 6.30 jadi kita masih sempat shalat dan beristirahat disana.
Setelah kereta datang kita pun langsung naik dan berangkat menuju Jakarta. Perjalanan ditempuh selama kira-kira 9-10jam. Jadi kita baru sampai Jakarta keesokan harinya, pukul 4pagi.

By: Nia Fadhlan 'Klappertartholland'